December 28, 2007

Bintan Island, Indonesia






click to enlarge picture

chien-wen tai, Singapore. Short weekend trip to Bintan Island, Indonesia. Lovely resorts and relaxing beaches. Simple folk & life there.

Photographer by: chien-wen tai

Read More...

the REAL INDONESIA




click to enlarge picture

Phil Brain, Jakarta, Bogor, Jogyjakarta, Borobodur and Pangandaren Temples,and sights of Central Java. Mama’s II is dedicated to providing you with a unique, enjoyable and memorable visit to Indonesia and wants you to see and enjoy the REAL INDONESIA as few have the opportunity to. Indonesia has beauty, peace and wonderful natural environments just waiting for you to see and explore. The Staff & English Speaking Guides at Mama’s II are here to show you all of these things AND MORE. Plus, we are sure you will enjoy the happy and smiling faces of the Indonesian People.

Mama’s II can provide you with Full Tour Packages of Java, Jakarta, Sulawesi, Bali or anywhere you desire in Indonesia or, if you simply want to experience the tranquility of Traditional Beachfront Village Living (with a Western touch, of course ) our Cottages at Ujung Genteng, South Java and Batu Putih, North Sulawesi are just the thing take the stress away. All of our tours include an English speaking guide and full transportation service, including Airport or Hotel pick-up and drop-off and are 100% flexible and catered to your specific needs.

Photographer by: Phil Brain

Read More...

Bali The Magical Island





click to enlarge picture

Robert Kitay, United States. These photos are from the beautiful island of Bali in Indonesia. Bali is different from most of Indonesia since it is predominately Hindu while most of Indonesia is Muslim. The island is beautiful, the people are very friendly, and the food and lodging are cheap. You can get a good place on the beach for $35 per night (breakfast included). Move a block farther from the beach and you can get a room for $15. A steak dinner will cost you only a dollar or two. Along with Thailand, Bali is one of the best vacation values on the planet.

Photographer by: Robert Kitay

Read More...

Traditional Phinisi Boat




click to enlarge picture

The first pinisiq (pronounced ‘peeneeseek’) was built in the 1840ies by a certain French or German beachcomber in Trengganu, Malaysia, who had settled and married a local girl there. When one day the raja, Sultan Baginda Omar, asked the long-nose to help in building a boat that would resemble the most modern western vessels, a royal schooner was built; boat and builder -by the name of Martin Perrot- were seen and met by an English captain in 1846. Following Malay traditions, this vessel became the prototype for a new class of vessels called pinas, probably after the word pinasse, which in the French and German of the time referred to a medium-sized sailing boat.

However, it certainly was not only this one vessel, which became the prototype of the pinisiq. Already since the early 18th century, the Dutch East-India trading company VOC had started constructing European style vessels for her inter Asian trade in Javanese shipyards, thus continuously introducing new constructional methods and rigs, including the Dutch version of the then new fore-and-aft sails.

The word pinisiq does refer to the rigging only -i.e. seven to eight sails, consisting of three foresails on a long bowsprit, a mainsail and a mizzen on standing gaffs, two topsails and a staysail on the mizzen-mast’s forestay- while the different types of hulls bear their own names. In the early years the schooner-ketch rigging was set on padewakang hulls, but after some experience the Sulawesian traders decided to use the sharp-bowed and faster palari (derived from lari, ‘to run’) as being much more fit for the driving power of the fore-and-aft sails. Being genuine sailing ships, pinisiq were fitted out with masts much taller than those you find installed on the motorised vessels of today; the whole hull was cargo space, and only a small cabin for the captain was placed on the aft deck, while the crew slept on deck or in the cargo-hold. The two long rudder blades fixed to strong traverse thwarts projecting out on both sides of the aft part, like those used on a padewakang, were retained as a steering device.

Traditional Boats: By Horst Liebner

Read More...

December 9, 2007

Dedicated to Hikaru & Himaru


Hikaru dan Himaru adalah dua ekor anjing yang dipelihara oleh sebuah keluarga mapan di Jakarta. Sebenarnya saya tidak terlalu suka dengan jenis binatang ini. Dari dulu hingga sekarang saya tidak pernah ada niat ataupun keinginan untuk memelihara binatang ini...

Sore tadi, saat saya menuju ke tempat pijat refleksi dekat kantor, tiba-tiba dikagetkan dengan gonggongan dua ekor anjing saat memasuki tempat pijat tersebut. Dengan dibantu pegawai tempat pijat itu, kedua anjing tersebut kemudian kembali diam...

Setelah dipijat (cape banget badan gua hehehehe..) saya kemudian duduk di sofa ruang tunggu sambil menghadap ke jendela kaca persis dihadapan kedua anjing tadi berada....Kadang mereka saling ganggu, lalu kemudian saling gigit...sampai akhirnya saling gonggong...saya mencoba bertanya kepada receptionist, " kok ga dipisahin seh?". "biarin aja mas, tiap hari juga geetu" jawab si pegawai.

Oh ya... keduanya terikat dengan tali, yang satu yang putih belang posisi di dalam kandang namanya Hikaru, sedang yang diluar, anjing rada-rada coklat namanya Himaru. (maaf, saya kurang begitu ngerti jenisnya, saya hanya tahu warnanya...). Hikaru dan Himaru tidak pernah akur. kalau Hikaru diam, Himaru datang mengganggu...begitupun sebaliknya...

Dari cerita pegawai tadi, Hikaru dan Himaru terikat di tempat tersebut sejak mereka dibeli tanpa pernah dilepaskan sekalipun untuk jalan-jalan. Praktis kedua binatang itu hanya bermain, bercanda, bertengkar, makan, tidur, buang air di tempat yang areanya hanya 1 meter. Tragisnya, Hikaru dan Himaru hanya diberi makan sekali dalam sehari...(maaf, saya mulai sedih mendengar cerita si Pegawai...). Bagaimanapun atau dengan alasan apapun saya merasa Hikaru dan Himaru tidak layak diperlakukan seperti itu meski keduanya binatang.

Sesekali Hikaru mencoba keluar kandang sambil berlari, namun tiba-tiba dia harus terhenti karena lehernya terjerat tali. Himaru juga kadang terlihat mencoba menggigit tali yang mengikatnya, namun karena tali itu sangat kuat..Himaru kemudian kembali duduk diam dan tertunduk. mungkin dia berandai-andai, kapan dia bisa bergerak dan melangkah lebih dari yang sekarang...

Saya masih duduk minum air hangat sambil memperhatikan tingkah mereka yang menyedihkan...tiba-tiba seekor kucing melintas dan bergerak bebas... keduanya berdiri namun lagi-lagi terhenti karena tali yang begitu kuat mencengkram leher mereka...Sampai kemudian saya bangkit untuk pulang keduanya memandang dan berdiri kearahku, seakan meminta pertolongan...uh....kasian banget...

Semoga dalam waktu dekat Tuan kamu menyadari akan hal ini, dan kalian berdua (Hikaru & Himaru) bisa menikmati hidup dan memperlakukan kalian dengan lebih baik. saya kemudian berlalu keluar pagar setelah mengabadikan gambar mereka...

Bye Hikaru...
Bye Himaru...

Read More...

December 8, 2007

Tahu Gejrot

Makanan Cirebon yg rasanya pedes, asem....segerrr!

Bahan:
Tahu, potong2, goreng

Kuah:
250 ml air
100 gr gula merah

Bumbu, haluskan:
5 bawang merah
1 bawang putih
4 cabe rawit hijau
2 cabe merah keriting
1 sdt garam

1 sdt asam jawa, larutkan dengan sedikit air panas

1 sdm kecap manis

Cara membuat:
Rebus gula merah dan air hingga larut, kemudian saring.
Tambahkan bumbu halus, air asam, didihkan dengan api kecil hingga kuah sedikit mengental dan bumbu tidak berbau langu.
Angkat, tambahkan kecap manis, cicipi rasanya.
Tuang diatas tahu goreng, kemudian taburi bawang goreng.

Read More...

Christine Natalia Hakim

Aktris dan produser film ini telah mengukir berbagai prestasi internasional. Penampilannya selalu anggun dan tenang. Ia memiliki kecantikan alamiah, nyata dan tidak khayali. Pemeran utama film Cut Nyak Din ini sangat teguh dalam komitmennya pada dunia film dan kebudayaan dalam arti luas. Ia pun menerima tanda kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma --yang sederajat dengan Bintang Jasa Utama Kamis14/8/03.....

Nama lengkapnya Christine Natalia Hakim. Nama yang disandangnya sejak kecil. Nama itu mengundang tanya. Bahkan mungkin saja banyak yang salah duga. Sebab ia lahir dalam keluarga muslim, seorang muslimah dan sudah pula menjadi hajjah. Lalu mengapa ia menyandang nama itu? Nama itu tidak bermakna lain, selain karena ia lahir pada 25 Desember 1956. Persis hari Natal yang oleh rekan-rekan kristiani di zaman modern diperingati sebagai hari lahir Jesus Kristus.

Penampilan artis kondang ini selalu anggun dan tenang. Cara berdandannya bisa mengekspresikan keartisannya, modis dan anggun, tapi secara keseluruhan tidak berlebihan. Ia seorang perempuan yang memiliki kecantikan alamiah, nyata dan tidak khayali. Beruntunglah pria yang menjadi suaminya.

Pemeran utama dalam film Cut Nyak Din ini sangat teguh dalam komitmennya pada dunia film dan kebudayaan dalam arti luas. Semangat pahlawan Cut Nyak Din, tampaknya benar-benar terpatri dalam benaknya. Menurut Christine, Cut Nyak Din memiliki nilai gagasan besar dan kuat. Nilai yang berani membuka mata menghadapi musuh dan tradisi yang mempermasalahkan jender dan persolalan hidup lainnya.

Salah duga bisa juga muncul jika orang menoleh masa manis remaja Christine Hakim dengan Broery Marantika. Masa pacaran dan bahkan mereka sempat merekam satu album musik duet. Tapi tidak banyak yang tahu alasan mereka untuk memilih berpisah. Orang hanya menduga-duga, mungkin saja alasan keteguhan mereka menganut agama masing-masing.

Sejak perpisahan dengan Broery, Christine menjadi lebih serius dalam karir filemnya dan memperoleh beberapa Citra. Juga pergi haji lalu menikah. Ia aktris yang sudah mendunia. Aktris dan produser film ini telah mengukir beberapa prestasi internasional. Antara laian bertugas sebagai anggota Dewan Juri Festival Film Internasional Cannes (FFIC) ke-55 di Prancis, 15-26 Mei 2002 lalu.

Di festifal itu, penerima penghargaan Nikkei Asia Prizes bidang kebudayaan dari koran besar Jepang, Nikkei Shimbun, ini duduk sederet dengan juri lain yakni Sharon Stone si Basic Instinct, serta Michele Yeoh, aktris asal Malaysia yang bermain dalam film James Bond Tomorrow Never Dies. Panel juri diketuai sutradara David Lynch.

Ia menyatakan sangat menghargai kehormatan yang diberikan itu. Sebuah kesempatan besar bagi aktris dan sutradara Indonesia dan Asia Tenggara untuk memantapkan posisi. Perempuan kelahiran Kuala Tungkal, Sumatera ini mengaku, kesempatan langka yang datang kepadanya ini, harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. "Saya sudah diberi kesempatan. Ini kan peluang buat Indonesia. Mudah-mudahan ini nanti berkelanjutan. Apakah orang lain di situ yang jadi juri atau film kita ikut di situ. Paling tidak, unregard, syukur-syukur bisa kompetisi," kata perempuan pemeran utama film Daun di Atas Bantal ini.

Terpilihnya Christine, pastilah melalui berbagai pertimbangan dan kualifikasi internasional. Track record dan prestasi sebagai juri di festival internasional. Pemberitahuan tentang terpilihnya sebagai anggota juri Festival Film Cannes sangat mendadak. Ia dihubungi pada 9 April dan memutuskannya sehari kemudian (10 April). Waktunya sangat mepet. Sebab, 15 April harus sudah official announce. Mepetnya waktu barangkali untuk menjaga kerahasiaan. Memang, beberapa waktu sebelumnya ia susah dihubungi, saat diundang ke Jepang untuk mendapat penghargaan di bidang kebudayaan, yaitu Nikkei Asia Prizes.

Dalam berbagai kesempatan, terutama kesempatan internasional, ia selalu berusaha melakukan sesuatu yang bermanfaat buat Indonesia. “Kalau seandainya saya present diri saya sendiri, orang juga pasti akan ingin tahu tentang Indonesia. Kan ada kesempatan yang memang harus dimanfaatkan. Artinya, itu kan gathering-nya orang film dunia. Kalau hanya mempresentasikan diri saya tanpa membawa misi lain kan sayang," tandas aktris yang oleh pihak Jepang pernah dibuatkan Pekan Retrospeksi khusus film Christine Hakim di Tokyo pada tahun 1995.

Kegiatan Christine sebagai juri di festifal film Cannes itu dipertontonkan melalui tayangan dokumentasi berdurasi empat menit, pada acara pembukaan Festival Sinema Prancis (FSP) 2002 di Graha Bhakti Budaya (GBB), Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, pada Kamis (30/5) sore. Dalam tayangan itu ada komentar aktris Hollywood Sharon Stone yang juga menjadi anggota dewan juri FFIC, serta sutradara AS terkemuka David Lynch yang Ketua Dewan Juri di festival yang sama, mengenai sosok Christine

Kemampuan akting Christine Hakim sudah diakui sejak ayunan langkah pertamanya di dunia film. Buktinya, lewat film debutnya, Cinta Pertama, yang dimainkan bersama Slamet Rahardjo Djarot, dia langsung menyabet Piala Citra.

Kini, nama Christine pun mengglobal. Bagaimana komentar dan penilaian rekan-rekannya tentang ketokohan Christine? "The best-nya Christine itu karena dia tak pernah berhenti belajar dan tidak cepat puas," kata Slamet Rahardjo. Itu pula yang membuat sutradara film Marsinah, Cry Justice mengacungkan jempol. “Selain menggali ilmu dari almarhum Teguh Karya, Christine selalu belajar pada apa pun dan siapa pun. Dia juga selalu membuka pikiran, hati, mata, dan perasaannya. Kadang-kadang juga membuka telinganya," tambah Cry Justice.

Sebagai sutradara, Slamet menilai, Christine, bintang film Pasir Berbisik, merupakan pekerja yang baik dan profesional. Dia juga dinilai bisa bekerja sama dengan pemain lainnya meskipun itu seorang junior. Di mata juniornya, Dian Sastrowardoyo, pemeran Berlian dalam film Pasir Berbisik, Christine memiliki arti penting. "Dia sudah seperti ibu bagi Dian. Dian juga sering minta ajarin dia. Dan dia cuma bilang, ya udah, yuk kita sama-sama belajar," ungkap Dian yang juga sukses meraih beberapa penghargaan internasional.


Obsesinya untuk melahirkan film Indonesia bertaraf internasional tidak pernah padam. Peluang untuk itu sesungguhnya terbuka. Kendati di lain pihak harus diakui sangat sulit. Dihadapkan dengan kondisi sehari-hari yang masih cukup memusingkan untuk bisa survive.

Indonesia sudah mulai membuat film sejak 1926. Pasang surut terjadi dan sangat banyak dipengaruhi situasi politik, misalnya waktu Orde Lama dan Orde Baru. Belakangan film Indonesia turun. Beberapa pihak mengatakan itu akibat berdirinya grup 21. Tapi Christine melihat penyebab kuncinya adalah kebijaksanaan Harmoko. Pihak 21 adalah pedagang. Harmoko sebagai menteri seharusnya memberi perlindungan, tapi dia tidak melakukan apa-apa. “Saya kira itu dosa besar Harmoko,” ujar Christine. .

Read More...

Mbah Maridjan

Mbah Maridjan (nama asli: Mas Penewu Suraksohargo; lahir di Dukuh Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman pada tahun 1927) adalah seorang juru kunci Gunung Merapi. Amanah sebagai juru kunci ini diperolehinya dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Setiap Gunung Merapi akan meletus, warga setempat selalu menunggu komando dari beliau untuk mengungsi.

Ia mulai menjabat sebagai wakil juru kunci pada tahun 1970. Jabatan sebagai juru kunci lalu ia sandang sejak tahun 1982.

Sejak kejadian Gunung Merapi mau meletus tahun 2006, Mbah Maridjan semakin terkenal

Read More...

Jam Gadang

click to enlarge picture

Jam Gadang adalah sebuah menara jam yang merupakan landmark kota Bukittinggi dan provinsi Sumatra Barat di Indonesia. Simbol khas Sumatera Barat ini pun memiliki cerita dan keunikan karena usianya yang sudah puluhan tahun.

Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 oleh arsitek Yazin dan Sutan Gigi Ameh. Peletakan batu pertama jam ini dilakukan putra pertama Rook Maker yang saat itu masih berumur 6 tahun. Jam ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Controleur (Sekretaris Kota). Pada masa penjajahan Belanda, jam ini berbentuk bulat dan di atasnya berdiri patung ayam jantan, sedangkan pada masa pendudukan Jepang, berbentuk klenteng. Pada masa kemerdekaan, bentuknya berubah lagi menjadi ornamen rumah adat Minangkabau.

Ukuran diameter jam ini adalah 80 cm, dengan denah dasar 13x4 meter sedangkan tingginya 26 meter. Pembangunan Jam Gadang yang konon menghabiskan total biaya pembangunan 3.000 Gulden ini, akhirnya menjadi landmark atau lambang dari kota Bukittinggi. Ada keunikan dari angka-angka Romawi pada Jam Gadang ini. Bila penulisan huruf Romawi biasanya pada angka enam adalah VI, angka tujuh adalah VII dan angka delapan adalah VIII, Jam Gadang ini menulis angka empat dengan simbol IIII (umumnya IV).

Read More...

Istana Ratu Boko



click to enlarge picture

Istana Ratu Boko, Kemegahan di Bukit Penuh Kedamaian

Istana Ratu Boko adalah sebuah bangunan megah yang dibangun pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran, salah satu keturunan Wangsa Syailendra. Istana yang awalnya bernama Abhayagiri Vihara (berarti biara di bukit yang penuh kedamaian) ini didirikan untuk tempat menyepi dan memfokuskan diri pada kehidupan spiritual. Berada di istana ini, anda bisa merasakan kedamaian sekaligus melihat pemandangan kota Yogyakarta dan Candi Prambanan dengan latar Gunung Merapi.

Istana ini terletak di 196 meter di atas permukaan laut. Areal istana seluas 250.000 m2 terbagi menjadi empat, yaitu tengah, barat, tenggara, dan timur. Bagian tengah terdiri dari bangunan gapura utama, lapangan, Candi Pembakaran, kolam, batu berumpak, dan Paseban. Sementara, bagian tenggara meliputi Pendopo, Balai-Balai, 3 candi, kolam, dan kompleks Keputren. Kompleks gua, Stupa Budha, dan kolam terdapat di bagian timur. Sedangkan bagian barat hanya terdiri atas perbukitan.

Bila masuk dari pintu gerbang istana, anda akan langsung menuju ke bagian tengah. Dua buah gapura tinggi akan menyambut anda. Gapura pertama memiliki 3 pintu sementara gapura kedua memiliki 5 pintu. Bila anda cermat, pada gapura pertama akan ditemukan tulisan 'Panabwara'. Kata itu, berdasarkan prasasti Wanua Tengah III, dituliskan oleh Rakai Panabwara, (keturunan Rakai Panangkaran) yang mengambil alih istana. Tujuan penulisan namanya adalah untuk melegitimasi kekuasaan, memberi 'kekuatan' sehingga lebih agung dan memberi tanda bahwa bangunan itu adalah bangunan utama.

Sekitar 45 meter dari gapura kedua, anda akan menemui bangungan candi yang berbahan dasar batu putih sehingga disebut Candi Batu Putih. Tak jauh dari situ, akan ditemukan pula Candi Pembakaran. Candi itu berbentuk bujur sangkar (26 meter x 26 meter) dan memiliki 2 teras. Sesuai namanya, candi itu digunakan untuk pembakaran jenasah. Selain kedua candi itu, sebuah batu berumpak dan kolam akan ditemui kemudian bila anda berjalan kurang lebih 10 meter dari Candi Pembakaran.

Sumur penuh misteri akan ditemui bila berjalan ke arah tenggara dari Candi Pembakaran. Konon, sumur tersebut bernama Amerta Mantana yang berarti air suci yang diberikan mantra. Kini, airnya pun masih sering dipakai. Masyarakat setempat mengatakan, air sumur itu dapat membawa keberuntungan bagi pemakainya. Sementara orang-orang Hindu menggunakannya untuk Upacara Tawur agung sehari sebelum Nyepi. Penggunaan air dalam upacara diyakini dapat mendukung tujuannya, yaitu untuk memurnikan diri kembali serta mengembalikan bumi dan isinya pada harmoni awalnya. YogYES menyarankan anda berkunjung ke Candi Prambanan sehari sebelum Nyepi jika ingin melihat proses upacaranya.

Melangkah ke bagian timur istana, anda akan menjumpai dua buah gua, kolam besar berukuran 20 meter x 50 meter dan stupa Budha yang terlihat tenang. Dua buah gua itu terbentuk dari batuan sedimen yang disebut Breksi Pumis. Gua yang berada lebih atas dinamakan Gua Lanang sedangkan yang berada di bawah disebut Gua Wadon. Persis di muka Gua Lanang terdapat sebuah kolam dan tiga stupa. Berdasarkan sebuah penelitian, diketahui bahwa stupa itu merupakan Aksobya, salah satu Pantheon Budha.

Meski didirikan oleh seorang Budha, istana ini memiliki unsur-unsur Hindu. Itu dapat dilihat dengan adanya Lingga dan Yoni, arca Ganesha, serta lempengan emas yang bertuliskan "Om Rudra ya namah swaha" sebagai bentuk pemujaan terhadap Dewa Rudra yang merupakan nama lain Dewa Siwa. Adanya unsur-unsur Hindu itu membuktikan adanya toleransi umat beragama yang tercermin dalam karya arsitektural. Memang, saat itu Rakai Panangkaran yang merupakan pengikut Budha hidup berdampingan dengan para pengikut Hindu.

Sedikit yang tahu bahwa istana ini adalah saksi bisu awal kejayaan di tanah Sumatera. Balaputradewa sempat melarikan diri ke istana ini sebelum ke Sumatera ketika diserang oleh Rakai Pikatan. Balaputradewa memberontak karena merasa sebagai orang nomor dua di pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno akibat pernikahan Rakai Pikatan dengan Pramudhawardani (saudara Balaputradewa. Setelah ia kalah dan melarikan diri ke Sumatera, barulah ia menjadi raja di Kerajaan Sriwijaya.

Sebagai sebuah bangunan peninggalan, Istana Ratu Boko memiliki keunikan dibanding peninggalan lain. Jika bangunan lain umumnya berupa candi atau kuil, maka sesuai namanya istana ini menunjukkan ciri-ciri sebagai tempat tinggal. Itu ditunjukkan dari adanya bangunan berupa tiang dan atap yang terbuat dari bahan kayu, meski kini yang tertinggal hanya batur-batur dari batu saja. Telusurilah istana ini, maka anda akan mendapatkan lebih banyak lagi, salah satunya pemandangan senja yang sangat indah. Seorang turis asal Amerika Serikat mengatakan, "Inilah senja yang terindah di bumi."

Penulis: Yunanto Wiji Utomo
http://www.yogyes.com

Read More...

Benyamin Sueb

Seniman Betawi Serba Bisa


Ia menjadi figur yang melegenda di kalangan masyarakat Betawi khususnya karena berhasil menjadikan budaya Betawi dikenal luas hingga ke mancanegara. Celetukan ‘muke lu jauh’ atau ‘kingkong lu lawan’ pasti mengingatkan masyarakat pada Benyamin Sueb, seniman Betawi serba bisa yang sudah menghasilkan kurang lebih 75 album musik, 53 judul film serta menyabet dua Piala Citra ini.

Sejak kecil, Benyamin Sueb sudah merasakan getirnya kehidupan. Bungsu delapan bersaudara pasangan Suaeb-Aisyah kehilangan bapaknya sejak umur dua tahun. Karena kondisi ekonomi keluarga yang tak menentu, si kocak Ben sejak umur tiga tahun diijinkan ngamen keliling kampung dan hasilnya buat biaya sekolah kakak-kakaknya.

Benyamin sering mengamen ke tetangga menyanyikan lagu Sunda Ujang-Ujang Nur sambil bergoyang badan. Orang yang melihat aksinya menjadi tertawa lalu memberikannya recehan 5 sen dan sepotong kue sebagai ‘imbalan'.

Penampilan Benyamin kecil memang sudah beda, sifatnya yang jahil namun humoris membuat Benyamin disenangi teman-temannya. Seniman yang lahir di Kemayoran, 5 Maret 1939 ini sudah terlihat bakatnya sejak anak-anak.

Bakat seninya tak lepas dari pengaruh sang kakek, dua engkong Benyamin yaitu Saiti, peniup klarinet dan Haji Ung, pemain Dulmuluk, sebuah teater rakyat - menurunkan darah seni itu dan Haji Ung (Jiung) yang juga pemain teater rakyat di zaman kolonial Belanda. Sewaktu kecil, bersama 7 kakak-kakaknya, Benyamin sempat membuat orkes kaleng.

Benyamin bersama saudara-saudaranya membuat alat-alat musik dari barang bekas. Rebab dari kotak obat, stem basnya dari kaleng drum minyak besi, keroncongnya dari kaleng biskuit. Dengan ‘alat musik’ itu mereka sering membawakan lagu-lagu Belanda tempo dulu.

Kelompok musik kaleng rombeng yang dibentuk Benyamin saat berusia 6 tahun menjadi cikal bakal kiprah Benyamin di dunia seni. Dari tujuh saudara kandungnya, Rohani (kakak pertama), Moh Noer (kedua), Otto Suprapto (ketiga), Siti Rohaya (keempat), Moenadji (kelima), Ruslan (keenam), dan Saidi (ketujuh), tercatat hanya Benyamin yang memiliki nama besar sebagai seniman Betawi.

Benyamin memulai Sekolah Dasar (dulu disebut Sekolah Rakyat) Bendungan Jago sejak umur 7 tahun. Sifatnya yang periang, pemberani, kocak, pintar dan disiplin, ditambah suaranya yang bagus dan banyak teman, menjadikan Ben sering ditraktir teman-teman sekolahnya.

SD kelas 5-6 pindah ke SD Santo Yusuf Bandung. SMP di Jakarta lagi, masuk Taman Madya Cikini. Satu sekolahan dengan pelawak Ateng. Di sekolah Taman Madya, ia tergolong nakal. Pernah melabrak gurunya ketika akan kenaikan kelas, ia mengancam, “Kalau gue kagak naik lantaran aljabar, awas!” Lulus SMP ia melanjutkan SMA di Taman Siswa Kemayoran. Sempat setahun kuliah di Akademi Bank Jakarta, tapi tidak tamat.

Benyamin mengaku tidak punya cita-cita yang pasti. “Tergantung kondisi,” kata penyanyi dan pemain film yang suka membanyol ini. Benyamin pernah mencoba mendaftar untuk jadi pilot, tetapi urung gara-gara dilarang ibunya.

Ia akhirnya menjadi pedagang roti dorong. Pada 1959, ia ditawari bekerja di perusahaan bis PPD, langsung diterima . “Tidak ada pilihan lain,” katanya. Pangkatnya cuma kenek, dengan trayek Lapangan Banteng - Pasar Rumput. Itu pun tidak lama. “Habis, gaji tetap belum terima, dapat sopir ngajarin korupsi melulu,” tuturnya. Korupsi yang dimaksud ialah, ongkos penumpang ditarik, tetapi karcis tidak diberikan.

Ia sendiri mula-mula takut korupsi, tetapi sang sopir memaksa. Sialnya, tertangkap basah ketika ada razia. Benyamin tidak berani lagi muncul ke pool bis PPD. Kabur, daripada diusut.

Baru setelah menikah dengan Noni pada 1959 (mereka bercerai 7 Juli 1979, tetapi rujuk kembali pada tahun itu juga), Benyamin kembali menekuni musik. Bersama teman-teman sekampung di Kemayoran, mereka membentuk Melodyan Boy. Benyamin nyanyi sambil memainkan bongo. Bersama bandnya ini pula, dua lagu Benyamin terkenang sampai sekarang, Si Jampang dan Nonton Bioskop.

Sebenarnya selain menekuni dunia seni, Benyamin juga sempat menimba ilmu dan bekerja di lahan yang ‘serius’ diantaranya mengikuti Kursus Lembaga Pembinaan Perusahaan dan Pembinaan Ketatalaksanaan (1960), Latihan Dasar Kemiliteran Kodam V Jaya (1960), Kursus Administrasi Negara (1964), bekerja di Bagian Amunisi Peralatan AD (1959-1960), Bagian Musik Kodam V Jaya (1957-1969), dan Kepala Bagian Perusahaan Daerah Kriya Jaya (1960-1969).

Dari berkesenian, hidup Benyamin (dan keluarganya) berbalik tak lagi getir. Debutnya Si Jampang, mengalir setelah itu Kompor Mleduk belakangan dinyanyikan ulang oleh Harapan Jaya, Begini Begitu (duet Ida Royani), Nonton Bioskop (dibawakan Bing Slamet) dan puluhan lagu karya Benyamin yang lain.

Tidak puas dengan hanya menyanyi, Benyamin lalu main film. Diawali Honey Money and Jakarta Fair (1970) lalu mengucur deras puluhan film lainnya. Seniman yang suka ‘mengomel’ bila melawak ini menjadi salah satu pemain yang namanya sering digunakan menjadi judul film. Selain Benyamin tercatat diantaranya Bing Slamet,Ateng, dan Bagio.

Judulnya, antara lain Benyamin Biang Kerok (Nawi Ismail, 1972), Benyamin Brengsek (Nawi Ismail, 1973), Benyamin Jatuh Cinta (Syamsul Fuad, 1976), Benyamin Raja Lenong (Syamsul Fuad, 1975), Benyamin Si Abunawas (Fritz Schadt, 1974), Benyamin Spion 025 (Tjut Jalil, 1974), Traktor Benyamin (Lilik Sudjio, 1975), Jimat Benyamin (Bay Isbahi, 1973), dan Benyamin Tukang Ngibul (Nawi Ismail,1975).

Dia juga main di film seperti Ratu Amplop (Nawi Ismail, 1974), Cukong Blo'on (Hardy, Chaidir Djafar, 1973),Tarsan Kota (Lilik Sudjio, 1974), Samson Betawi (Nawi Ismail, 1975), Tiga Janggo (Nawi Ismail, 1976), Tarsan Pensiunan (Lilik Sudjio, 1976), Zorro Kemayoran (Lilik Sudjoi, 1976). Sementara Intan Berduri (Turino Djunaidi, 1972) membuat dirinya, dan Rima Melati, meraih Piala Citra 1973.

Benyamin juga membuat perusahaan sendiri bernama Jiung Film - diantara produksinya Benyamin Koboi Ngungsi (Nawi Ismail, 1975) - bahkan menyutradarai Musuh Bebuyutan (1974) dan Hippies Lokal (1976). Sayang, usahanya mengalami kemunduran, dan PT Jiung Film dibekukan tahun 1979.

Benyamin tidak selalu menjadi bintang utama di setiap filmnya. Seperti layaknya semua orang, ada proses dimana Benyamin "hanya" menjadi figuran atau paling mentok menjadi aktor pembantu. Dalam hal ini, paling tidak ada dua nama yang patut disebut, yaitu Bing Slamet dan Sjuman Djaya. Walau sudah merintis karir sebagai "bintang film" lewat film perdananya, Banteng Betawi (Nawi Ismail,1971) yang merupakan lanjutan dari Si Pitung (Nawi Ismail, 1970), tetapi kedua nama besar itulah yang mempertajam kemampuan akting Benyamin.

Dalam "berguru" dengan Bing Slamet, Benyamin tidak saja bekerja sama dalam hal musik - seperti dalam lagu Nonton Bioskop dan Brang Breng Brong. Tapi dalam hal film pun dilakoninya. Terlihat dengan jelas, di film Ambisi (Nya Abbas Acup, 1973) -sebuah "komidi musikal" yang diotaki oleh Bing Slamet - Benyamin menjadi teman sang aktor utama, Bing Slamet menjadi penyiar Undur-Undur Broadcasting.

Di film ini, sudah terlihat gaya "asal goblek" Benyamin yang penuh improvisasi dan memancing tawa. Di sini, dia berduet dengan Bing Slamet lewat lagu Tukang Sayur. Tetapi, sebenarnya, setahun sebelumnya, Benyamin juga diajak ikutan main Bing Slamet Setan Djalanan (Hasmanan, 1972). Karena itulah, saat sahabatnya itu wafat pada 17 Desember 1974, Benyamin tak dapat menahan tangisnya.

Dengan Sjuman Djaya, Benyamin diajak main Si Doel Anak Betawi (Sjuman Djaya, 1973). Dirinya menjadi ayah si Doel, yang diperankan oleh Rano Karno kecil. Perannya serius tapi, seperti stereotipe orang Betawi, kocak dan tetap "asal goblek".

Adegan terdasyat film ini adalah saat pertemuan antara abang-adik yang diperankan oleh Benyamin dan Sjuman Djaya sendiri, terlihat ketegangan dan kepiawaian akting keduanya yang mampu mengaduk-aduk emosi penonton. Talenta itu direkam oleh ayah dari Djenar Maesa Ayu dan Aksan Syuman, dan dua tahun kemudian Benyamin pun main film sekuelnya, Si Doel Anak Modern (Sjuman Djaya, 1975). Kali ini Benyamin menjadi bintang utamanya, dan meraih Piala Citra.

Yang menarik, lebih dari dua puluh tahun kemudian Rano Karno membuat versi sinetronnya. Castingnya nyaris sama: Rano sebagai Si Doel, Benyamin sebagai ayahnya - selain theme song-nya dan settingnya yang hanya diubah sedikit saja. Lagi-lagi Benyamin menjadi aktor pendukung, tapi kehadirannya sungguh bermakna.

Sebenarnya ada satu lagi film yang dirinya bukan aktor utama, tetapi sangat dominan bahkan namanya dijadikan subjudul atawa tagline: Benyamin vs Drakula. Film itu adalah Drakula Mantu, karya si Raja Komedi Nyak Abbas Akub tahun 1974. Film bergenre komedi horor itu "memaksa" Benyamin beradu akting dengan Tan Tjeng Bok, si aktor tiga zaman. Begitulah, meski beberapa kali pernah tidak "menjabat" sebagai aktor utama, tetapi kehadirannya mencuri perhatian penonton saat itu.

Penyanyi Beneran

Tahun 1992, saat sibuk main sinetron dan film televisi (Mat Beken dan Si Doel Anak Sekolahan) Benyamin mengutarakan keinginannya pada Harry Sabar, "Gue mau dong rekaman kayak penyanyi beneran."

Maka, bersama Harry Sabar, Keenan Nasution, Odink Nasution, dan Aditya, jadilah band Gambang Kromong Al-Haj dengan album Biang Kerok. Lagu seperti Biang Kerok serta Dingin-dingin menjadi andalan album tersebut. Inilah band dan album terakhir Benyamin.

"Di lagu itu, entah kenapa, Ben menyanyi seperti berdoa, khusuk. Coba saja dengar Ampunan," jelas Harry, sang music director. "Mungkin sudah tahu kalau hidupnya tinggal sebentar," imbuhnya. Memang betul, setelah album itu keluar, Benyamin sakit keras, dan rencana promosi ditunda dan tak pernah lagi terwujud kecuali beberapa pentas.

Di album ini, Benyamin menyanyi dengan "serius". Tetapi, lagi-lagi, seserius apa pun, tetap saja orang-orang yang terlibat tertawa terpingkal-pingkal saat Benyamin rekaman lagu I’m a Teacher dan Kisah Kucing Tua dengan penuh improvisasi. Sementara lagu Dingin Dingin Dimandiin dan Biang Kerok bernuansa cadas. Dan Ampunanmu kental dengan progressive rock, diantaranya nuansa Watcher of the Sky dari Genesis era Peter Gabriel.

Yang menarik, masih menurut Harry, saat Benyamin menonton Earth, Wind, and Fire di Amerika - saat menjenguk anaknya yang kuliah di sana - dia langsung komentar, "Nyanyi yang kayak gitu, asyik kali ye?", dan nuansa itu pun hadir di beberapa lagu di album itu, salah satunya dengan sedikit sentuhan Lady Madonna dari The Beatles.

Benyamin yang sudah tiga kali menunaikan ibadah haji ini meninggal dunia seusai main sepakbola pada tanggal 5 September 1995, akibat serangan jantung. Ia bukan lagi sekadar sebagai tokoh masyarakat Betawi, melainkan legenda seniman terbesar yang pernah ada. Karena itu banyak orang merasa kehilangan saat dirinya dipanggil Yang Maha Kuasa.

Dari pelawak yang pernah tampil dalam variety show Benjamin Show sambil tour dari kota ke kota sampai Malaysia dan Singapura ini muncul banyak idiom atau celetukan yang sampai kini masih melekat di telinga masyarakat, khususnya warga Jakarta. Sebut saja, aje gile, ma'di kepe, atau ma'di rodok, yang semuanya lahir dari lidah Benyamin.

Sumber: http://www.tokohindonesia.com

Read More...

Sup Merah

Sup ini rasanya sedikit asam2 segar, karena menggunakan tomat cukup banyak. Pilih tomat yang masih segar dan sudah berwarna merah tua, sehingga warna menjadi cantik.

Bahan:
1 ltr kaldu ayam
3/4 cup daging ayam rebus
3/4 cup wortel, potong dadu
1/2 cup jamur kalengan, iris melebar
1/2 cup kacang polong beku
2-3 sdm macaroni
1 sdm celery (seledri berbatang besar), iris halus
250 gr tomat merah, rebus sebentar, haluskan, saring
5 sdm saus tomat
1 sdt italian herb (additional)
1-1/2 sdt garam
1/2 sdt gula pasir
1/2 sdt merica

Bumbu:
1/4 bh bawang bombay, cincang halus
1 sng bawang putih, geprek, cincang halus
3 sdm olive oil, untuk menumis

Pelengkap:
Garlic bread
Parmesan chesee

Cara membuat:
Campur kaldu ayam dan juice tomat yg telah disaring. Didihkan.
Sementara itu, tumis bawang bombay dan bawang putih hingga harum.
Masukkan daging ayam, wortel, kacang polong dan jamur kedalam tumisan, masak sebentar.
Masukkan seluruh tumisan kedalam kaldu.
Tambahkan saus tomat, bumbu2 lainnya dan makaroni.
Masak hingga macaroni cukup matang (kurleb 7 mnt).
Cicipi rasanya.
Hidangkan dalam keadaan hangat bersama garlic bread.
Bila suka taburi atasnya dengan parmesan chesee.

Note:
Macaroni bisa juga dimasak secara terpisah.

Read More...

December 2, 2007

Pancake

Bahan:

[A]
250 ml butter milk atau
250 ml susu cair + 1 sdm vinegar, diamkan 10 mnt atau
250 ml thick cream

[B]
2 sdm mentega, cairkan
1 btr telur, kocok lepas

[C]
165 gr terigu
2 sdm gula pasir
2 sdt baking powder
1/4 sdt garam

Mentega, untuk olesan

Cara membuat:
Taruh campuran bahan C ke dalam wadah. Buat lubang ditengahnya. Campur bahan A dan B, aduk rata. Kemudian tuang ke C, aduk rata. Bila ada waktu, biarkan adonan selama 15 menit. Panaskan, wajan teflon, buat dadar satu persatu, masak sampai kedua sisinya kecoklatan. Setelah matang, dalam keadaan masih panas, olesi kedua sisinya dengan mentega. Hidangkan bersama pancake syrup.


Read More...

Strawberry Lassie

Bahan:
Strawberry
Yoghurt

Cara membuat:
Blender strawberry & yoghurt hingga halus

Read More...

Tukul Riyanto "Arwana"

Tukul Riyanto, atau lebih dikenal dengan nama Tukul Arwana adalah seorang pelawak dan pembawa acara asal Perbalan, Purwosari, Semarang. Tukul lahir di Semarang pada tanggal 16 Oktober 1963. Saat ini, Tukul membawakan acara yang sangat diminati masyarakat luas, Empat Mata. Selain menjadi pelaku hiburan, Tukul juga merintis usaha yang bergerak di bidang hiburan, yang bernama "Ojo Lali Entertainment".

Masa kecil

Sejak lahir, ia diberi nama Riyanto, bukan Tukul Riyanto seperti yang dikenal sekarang. Karena ia sering sakit, namanya ditambah kata "Tukul" menjadi Tukul Riyanto. Anehnya, setelah namanya diubah demikian, ia menjadi jarang sakit. Ia pun akhirnya akrab dipanggil Tukul. Di usia 5 bulan, Tukul yang sering sakit diasuh oleh tetangganya, Suwandi. Orang tua Tukul, Abdul Wahid dan Sutimah (alm.) yang memiliki empat orang anak rela menyerahkan Tukul, karena Suwandi sangat ingin menjadikan Tukul sebagai anak angkat.

Masa Muda

Dengan bakat alaminya, Tukul muda sudah mulai melawak sejak kelas VI SD. Berbagai macam perlombaan lawak, mulai dari tingkat Kotamadya Semarang, Jawa Tengah, DKI, dan Jabotabek, serta tingkat nasional ia coba. Usahanya ini tidak sia-sia. Ia berhasil menjuarai berbagai perlombaan melawak. Setelah lulus SD, putra ketiga dari pasangan Abdul Wahid dan almarhumah Sutimah itu melanjutkan sekolahnya ke SMP Muhammadiyah Indraprasta. Namun, pada saat Tukul duduk di bangku kelas III, orang tua angkatnya, Suwandi mengalami kesulitan ekonomi. Bahkan, rumah yang selama itu ditempatinya harus dijual. Puncaknya, saat menuntut ilmu di SMA Ibu Kartini, Jalan Sultan Agung, Semarang, Tukul mulai kesulitan untuk membayar biaya sekolah. Tukul pun mulai mencari pekerjaan untuk membiayai sekolahnya.

Selepas SMA, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, selain melawak ia juga pernah bekerja sebagai sopir angkutan (jurusan Johar-Panggung di Semarang). Setelah dua tahun, Tukul berganti pekerjaan menjadi sopir truk gas elpiji di daerah Tanah Mas, Semarang Utara selama dua tahun, sebelum akhirnya kembali menjadi sopir angkutan. Setelah berganti-ganti pekerjaan, Tukul akhirnya memuntuskan untuk hijrah Jakarta atas ajakan temannya Joko Dewo dan Tony Rastafara sekitar tahun 1992. Selama beberapa tahun di Jakarta, nasibnya belum juga berubah.

Di kontrakannya yang terletak di bilangan Blok S Jakarta Selatan, Tukul banyak dibantu Joko Dewo dan Tony Rastafara untuk kebutuhan sehari-hari. Dalam keadaan ekonomi yang belum berkecukupan, Tukul menikah dengan gadis berdarah Padang bernama Susi. Ia dikaruniai seorang anak perempuan bernama Novita Eka Afriana.

Setelah menikah, Tukul dan keluarganya tinggal di sebuah kontrakan di daerah Cipete Utara. Sampai akhirnya Tukul melamar kerja di Radio Humor SK dan bekerja di sana bersama rekan pelawak yang lain seperti Bagito, Patrio, Ulfa Dwiyanti, dan lain-lain. Sebelumnya, Tukul sempat menjadi sopir pribadi untuk menafkahi keluarganya.

Karir

Nasib mujur Tukul semakin membaik ketika ia diajak dalam produksi Lenong Rumpi oleh Ramon Tommybens. Titik balik karirnya pun mencuat ketika menjadi pendamping Joshua di video klip "Air" dengan iKon diobok-obok-nya sekitar tahun 1997.

Nama Tukul Arwana semakin melambung ketika dipercayai untuk menjadi pembawa acara acara musik "Aduhai" di TPI serta acara "Dangdut Ria" di Indosiar. Saat ini, namanya kian melesat ketika TV7 (kini Trans7) mempercayakannya menjadi pembawa acara talk show Empat mata. Tukul juga baru saja menyelesaikan syuting film layar lebar pertamanya yang berjudul OTOMATIS ROMANTIS. Dalam film yang disutradarai Guntur Soehardjanto ini, Tukul berperan sebagai suami Wulan Guritno dalam sebuah rumah tangga yang ada di ujung kehancuran.

Trivia
Nama "Arwana" diberikan oleh rekannya, Tony Rastafara agar Tukul bisa menjadi orang kaya, karena ikan arwana banyak dipelihara orang kaya.

Jika sedang menangis, Tukul akan terdiam ketika digendong oleh tetangganya, Suwandi. Akhirnya, ia pun diangkat menjadi anak oleh tetangganya itu.

Saat melamar menjadi sopir pribadi, Tukul tidak begitu mengerti tentang jalan-jalan di Kota Jakarta.

Read More...

Nama Terpendek di Indonesia

NGOMONG-ngomong ihwal disiplin, inilah kisah lain dari Kantor Catatan Sipil Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Adalah pasangan suami istri Surotomo dan Aisah, warga Desa Kebon Kidul, suatu hari awal Juni lalu datang ke kantor tersebut. Mereka ingin membuat akta kelahiran anaknya yang pertama. Biasanya sih, urusan akta kelahiran lancar-lancar saja, jika memang tak ada surat-surat yang kurang.

"Surat-surat kami lengkap," kata Surotomo. Kok masih jadi masalah? "Ndak tahu saya, kok ndak diterima," kata petani itu. Ternyata pangkal masalah ada pada nama anak laki-laki yang lahir 14 Mei 1997 itu. Kedua orang tuanya telanjur memberi nama si anak: "X". "Sebab tidak ada nama yang cocok," kata Surotomo, sambil menyebut sanak keluarganya menyumbang berbagai nama.

Sejak di kelurahan sebenarnya urusan tak terlalu mulus. Pegawai desa berkali-kali membujuk Surotomo agar mengubah nama anaknya. "Nama dengan hanya huruf X itu tidak lumrah," kata petugas kantor kepala desa itu. "Ini kan anak saya sendiri, ya terserah saya memberi nama," sahut Surotomo, agak ngeyel.

Karena Surotomo ngotot, yah surat pengantar diberikan juga. Namun di Kantor Catatan Sipil Kabupaten Pati, nama satu huruf ini lagi-lagi disoal. Singkat cerita, akta kelahiran untuk bayi "X" itu belum dikeluarkan. Menurut kepala sub-seksi kelahiran kantor itu, Nurhadi, akta kelahiran baru dikeluarkan jika nama itu diganti atau ditambah. "X itu ndak layak sebagai sebuah nama," katanya kepada Joko Syahban dari Gatra.

Tapi Surotomo tetap kukuh pada pilihannya. "Biar saja ndak punya akta," ujarnya, seraya menyatakan jengkel nama anaknya disoal-soal. "Itu kan hak saya," katanya lagi, kali ini nadanya ketus. Tapi kenapa X doang, sih? "Agar mudah diingat saja," jawab Surotomo.

Petugas Catatan Sipil Pati tampaknya perlu mengendorkan "disiplin-nama" ini. Sebab si "X", bukan orang pertama bernama satu huruf. Di Museum Rekor Indonesia (MURI), Semarang, yang dikelola Jaya Suprana, tercatat nama terpendek milik anak laki-laki asal Jepara, Jawa Tengah. Namanya "N".

Penulis: I Made Suarjana
http://members.tripod.com/petit_w/nama_x.html

Read More...

by TemplatesForYouTFY
SoSuechtig, Burajiru